Senin, 03 Desember 2012

PEMAKAIAN BAHASA JENIS, RELASI, DAN PERUBAHAN MAKNA



PEMAKAIAN BAHASA
JENIS, RELASI, DAN PERUBAHAN MAKNA
Oleh:
KELOMPOK 7
EVA NURHAFNI
EMI
MUHAMMAD SADRI
RABBANI SINAMO
SYAHYANTI SOLIN
YAHNI TRI PUTRI SANTURI
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2011/2012
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya yang mana penulis masih diberikannya kesabaran dan ketabahan dalam menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya yang telah ditentukan. Adapun penulis mengangkat judul makalah dengan judul Pemakaian Bahasa, Jenis, Relasi, dan Perubahan Makna.
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah hendak memenuhi tugas mata kuliah semantik yang telah diberikan dosen pembimbing, agar kami lebih memahami pemakaian bahasa itu. Sebelumnya penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dalam tulisan yang dibuat oleh penulis, untuk itu penulis meminta maaf.
Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih dan mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun makalah kami demi penyempurnaan dan perbaikan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi seluruh pembaca.


Medan,  Oktober 2011
Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.    Latra Belakang Masalah...................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................. 1
C.    Tujuan Masalah ................................................................................... 1
BAB I PEMAKAIAN BAHASA JENIS RELASI DAN PERUBAHAN MAKNA      2
A.    Pengertian Makna................................................................................. 2
B.     Jenis-jenis Makna.................................................................................. 4
C.    Relasi Makna......................................................................................... 5
D.    Perubahan Makna................................................................................ 7
BAB III PENUTUP..................................................................................... 14
1.      Kesimpulan ...................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 15







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pada umumnya makna bahasa merupakan suatu tataran linguistik, semantik dengan objeknya yakni makna yang berada di seluruh atau di semua tataran  fonologi, morfologi, dan sintaksis yang dapat  dilakukan serta digunakan. Di dalam kajian atau pembahasan yang mengenai perubahan makna memiliki bagian-bagian yang harus dipaparkan dan diselesaikan. Adapun bagian- bagian dari perubahan makna tersebut yaitu, jenis-jenis makna, relasi makna, dan perubahan makna.

B.     Rumusan Masalah
Untuk mempermudah penyelesaian masalah diatas kami membuat beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.      Apa yang dimaksud dengan makna.
2.      Apa yang dimasud dengan relasi makna.
3.      Apa yang dimaksud dengan perubahan makna.

C.    Tujuan Masalah
Adapun tujuan yang  ingin dicapai dalam makalah ini ialah:
1.      Untuk mengetahuai apa yang dimaksud dengan makna
2.      Untuk mengetahui apa  yang dimaksud dengan perubahan dan jenis-jenis perubahan makna.
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan relasi makna.
4.      Untuk mengetahui hubungan hubungannya dalam pemakian bahasa.




BAB II
PEMAKAIAN BAHASA JENIS RELASI
DAN PERUBAHAN MAKNA

A.    Pengertian Makna
Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia) makna yaitu arti, maksud dan pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Maka dapat disimpulkan bahwa makna merupakan suatu arti atau maksud terhadap sesuatu yang akan dimaknai dalam pemakaian makna.
B.     Jenis- Jenis Makna
Jenis-jenis makna adalah berbagai ragam makna yang terdapat dalam sebuah bahasa. Jenis makna menunjukkan adanya perbedaan makna. Makna kata dalam bahasa Indonesia bisa beraneka ragam karena berhubungan dengan pengalaman, sejarah, tujuan, dan perasaan pemakai bahasa. Meskipun pemakai bahasa itu beraneka ragam, namun tetap memiliki makna dasar ( pusat).
Pateda (1986) misalnya secara alfabetis telah mendaftarkan adanya 25 jenis kata, yaitu afektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekstensi, makna emotif, makna gereflekter, makna ideasional, makna intense, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna piktorial, makna proposional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna stilistika, dan makna tematis. Ada istilah yang berbeda namun tetap sama atau hampir sama, tetapi ada pula istilah yang sama maksud berbeda.
Sementara itu, Leech( 1976) yang karyanya banyak dikutip dalam studi semantik membedakan adanya tujuh tipe atau jenis makna yaitu makna konseptual, makna konotatif, makna stilistika, makna afektif, makna reflektif, makna kolokatif, dan makna tematik.
Sesungguhnya jenis atau tipe makna memang dapat dibedakan berdasarkan kreteria dan sudut pandang. Jika berdasarkan jenis semantiknya makna dapat dibedakan yaitu makna leksikal dan makna gramatikal. Sesuai dengan pembahasan makalah ini, maka akan kami jelaskan apa itu makna leksikal dan makna gramatikal.
1)      Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina, leksikal (vokabuler, kosakata, pembendaharaan kata). Satuan dari leksikal adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikal, leksem, atau bersifat kata. Oleh karena itu, dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dngan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Umpanya kata tikus makna leksikalnya adalah  sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbul penyakit tifus.
Makna ini tampak jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing, atau pada contoh Panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus. Di sini jelas dikatakan bahwa kata tikus pada kedua kalimat itu menunjukkan kepada binatang tikus bukanlah pada orang lain. Sedangkan pada contoh yang menjadi Tikus di dalam gudang kami ternyata berkepala hitam. Contoh kalimat ini tidak merupakan leksikal karena tidak menunjuk ke binatangnya melainkan kepada orang lain.
Berdasarkan contoh di atas dapat disimpulkan bahwa makna leksikal dari suatu kata adalah gambaran yang nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata itu. Kalau makna leksikal itu berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik berarti melahirkan makna ‘dapat’, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik papan itu terangkat ke atas.  Melahirkan makna gramatikal tidak sengaja.
Oleh karena itu, maka sebuah kata, baik kata dasar maupun kata jadian, sering sangat tergantung pada konteks kalimat atau konteks situasi maka makna gramatikal ini sering disebut makna kontekstual atau makna situasional. Selain itu juga, disebut makna struktural karena proses dan satuan-satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan.
2)      Makna Referensial dan Nonreferensial
Makna referensial adalah makna yang apabila kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu diluar bahasa yang diacu oleh kata itu maka tersebut disebut kata bermakna referensial. Contohnya, kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut “meja”dan kursi. Sedangkan kalau kata-kata itu tidak memiliki referen maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Contonya, kata karena dan tetapi tidak mempunyai referen. Jadi, kata dan tetapi termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
3)      Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif (sering juga diasebut makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yanga lain) pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Lalu karena itu makna denotasi sering disebut sebagai makna sebenarnya umpamanya kata perempuan dan wanita kedua kata ini mempunyai makna denotasi yang sama yaitu manusia dewasa bukan laki-laki. Begitu juga dengan gadis dan perawan; kata istri dan bini.
4)      Makna Kata dan Makna Istilah
Makna kata sebagai istilah memang dibuat setepat mungkin untuk menghindari kesalahpahaman dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Dalam bidang kedokteran kata tangan dan lengan digunakan sebagai istilah untuk pengertian yang berbeda. Tangan adalah pergelangan sampai kejari-jari sedangkan lengan dari pergelangan sampai ke pangkal bahu. Telinga adalah bagian dalam dari alat pendengaran sedangkan kuping adalah bagian luarnya.


5)      Makna Konseptuan dan Asosiatif
Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas dari asosiatif atau apa pun. Jadi, sebenarnya makna konseptual itu sama dengan makna referensial, makna leksikal, dan makna denotatif. Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata dan berkenaan dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan makna suci atau kesucian, kata merah berasosiasai dengan makna berani, atau juga dengan golongan komunis kata cendrawasih berasosiasi dengan makna indah.
6)      Makna Ideomatikal dan Peribahasa
Idiom adalah satuan-satuan bahasa (bisa berupa kata, frase maupun kalimat) yang  maknanya tidak  dapat diramalkan dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut.
7)      Makna Kias
Penggunaan istilah arti kiasan ini sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, bentuk bahasa  (baik kata, frase, maupun kalimat) yang tidak merujuk pada arti kata sebenarnya (arti leksikal, konseptual, atau denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti putri malam dalam arti bulan, dan raja siang dalam arti matahari semuanya mempunyai makna kiasan.
8)      Makna Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi
Makna lokusi ialah makna yang seperti dinyatakan dalam ujaran makna harfiah atau makna apa adanya. Sedangkan makna ilokusi ialah makna yang seperti dipahami oleh pendengar. Sebaliknya yang dimaksud dengan makn aperlokusi  adalah makna yang seperti diingankan oleh penutur.

C.    Relasi Makna
Setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan menyangkut hal kesamaan makna (sinonimi), kebalikan makna (antonimi), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna  (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna ( redundasi).
1.      Sinonimi
Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu Onoma  yang berarti ‘ nama’ dan syn yang berarti ‘ dengan’ maka secara harfiah kata sinonimi berarti ‘ nama lain untuk benda atau hal ya ng sama’. Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai ungkapan (dapat berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Contoh: Mati, wafat, meninggal, gugur, dan mampus adalah lima buah jata yang bersinonim.
2.      Antonimi
Kata antonomi berasal dari bahasa kata Yunani kuno, yaitu Onoma yang artinya ‘ nama’ dan anti yang artinya ‘ melawan’. Maka secara harfiah antonomi berarti nama lain untuk benda lain pula. 
Contoh:
Bagus  > < buruk
Besar   > < kecil
3.      Homonimi
Secara semantik Verhaar (1978:94) menyatakan homonimi ialah sebagai ungkapan berupa kata, frase atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain tetapi maknanya tidak sama.
Contoh :
Bisa, dapat berarti sanggup, dapat dan bisa juga dapat berarti racun ular.
4.      Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu.
Contoh :
Kepala, kepala memiliki makna (1) bagian tubuh dari leher ke atas, seperti yang terdapat pada manusia dan hewan, (2) bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala paku, dan kepala jarum, (3) pemimpin atau ketua seperti kepala sekolah, kepala kantor dan lain-lain.

5.      Hiponimi
Secara semantik Verhaar (1978 :137) mengatakan hiponim ialah ungkapan (biasanya berupa kata, frase, klausa atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain.
Contoh :
Kata Bemo dan kendaraan.
Kata Bemo berhiponim  terhadap kata kenderaan.
6.      Redundansi
Istilah redundansi sering diartikan sebagai berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Contoh:
a.      Nasi dimakan kucing
b.      Nasi dimakan oleh kucing
Makna dalam kalimat (a) tidak akan berubah meskipun pada kalimat ( b) ditambah pemakaian kata oleh. Tetapi kalimat (b) dianggap sebagai sesuatu yang redundansi (yang berlebih-lebihan) yang sebenarnya kata oleh  itu tidak perlu dipakai.

D.  Perubahan Makna
1)      Pelancar Perubahan Makna
Bahasa itu relatif berubah. Perubahan bahasa dapat terjadi dalam dua lapisan, baik lapisan bentuk maupun lapisan makna. Perubahan bentuk bahasa akan mengakibatkan perubahan maknanya. Ada enam faktor yang memperlancar perubahan makna yaitu :
a.       Bahasa itu berkembang.
b.      Bahasa bersifat samar.
c.       Bahasa bersifat taksa.
d.      Bahasa kehilangan motivasi.
e.       Bahasa memiliki struktur leksikal.
f.       Bahasa bermakna ganda.

2)      Penyebab Perubahan Makna
Makna kata dalam sebuah bahasa sering mengalami perubahan (Sudaryat 2008:49). Perubahan itu dapat terjadi karena berbagai faktor, yaitu sebagai berikut:
a.       Faktor linguistik.
b.      Faktor historis.
c.       Faktor sosiologis.
d.      Faktor psikologis.
e.       Faktor bahasa asing.
f.       Faktor kebutuhan leksem baru.
Mengapa makna kata itu berubah, sebab perubahan makna dan wujud perubahan makna itu bagaimana (Chaer, 2009:130-144).
1.      Sebab-sebab perubahan makna kata
Adapun sebab-sebab perubahan makna sebuah kata, yaitu:
a)      Perkembangan dalam ilmu dan teknologi
Perkembangan dalam bidang ilmu dan kemajuan dalam bidang teknologi dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna sebuah kata. Sebuah kata yang tadinya mengandung konsep makna mengenai sesuatu yang sederhana, tetap digunakan walaupun konsep makna yang dikandung telah berubah sebagai akibat dari pandangan baru, atau teori baru dalam suatu bidang ilmu atau sebagai akibat dalam perkembanagan teknologi. Misalnya, kata berlayar yang pada awalnya bermakna ‘perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar’. Walaupun kapal-kapal besar tidak lagi menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan tenaga mesin, tenaga nuklir, namun kata berlayar masih tetap digunakan.
b)      Perkembangan sosial dan budaya
Perkembangan dalam bidang sosial kemasyarakatan dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna. Sama seperti yang terjadi sebagai akibat perkembangan bidang-bidang ilmu, dan teknologi, sebuah kata yang pada mulanya ‘a’ lalu berubah menjadi bermakna ‘b’ atau ‘c’ jadi, bentuk katanya tetap sama tetapi konsep makna yang dikandungnya sudah berubah. Misalnya, kata saudara dalam bahasa Sanskerta bermakna ‘seperut atau satu kandungan’, tetapi kini kata  saudara juga digunakan untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang sama.

c)      Perbedaan bidang pemakaian
Setiap bidang kehidupan atau kegiatan memiliki kosakata tersendiri yang hanya dikenal dan digunakan dengan makna tertentu dalam bidang yang bersangkutan. Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang tertentu didalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat terbantu dari bidangnya: dan digunakan dalam bidang lain atau menjadi kosa kata umum. Oleh karena itu, kata-kata tersebut menjadi memiliki makna baru atau makna lain di samping makna aslinya (makna yang berlaku dalam bidangnya). Misalnya, kata  menggarap yang berasal dari bidang pertanian dengan segala macam derivasinya, seperti tampak dalam frase  menggarap sawah, tanah garapan, dan  petani penggarap,  kini banyak juga digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna ‘mengerjakan’ seperti tampak digunakan dlam frase menggarap skripsi,  menggarap naskah drama, menggarap generasi muda, dan menggarap usul para anggota.
d)     Adanya asosiasi
Agak berbeda dengan perubahan makna yang terjadi sebagai akibat penggunaan dalam bidang yang lain, di sini makna baru yang muncul adalah berkaitan dengan hal atau peristiwa lain yang berkenaan dengan kata tersebut. Misalnya, kata amplop yang berasal dari bidang administrasi atau surat menyurat, makna asalnya adalah ‘sampul surat’. Ke dalam amplop itu selain bisa dimasukkan surat, juga bisa dimasukkan benda lain, misalnya uang. Oleh karena itu, dalam kalimat beri beri saja amplop maka urusan pasti beres kata amplop disitu bermakna ‘uang ‘ sebab amplop yang dimaksud bukan berisi surat atau tidak berisi apa-apa melainkan berisi uang sebagai sogokan.  
Asosiasi antara amplop dengan uang ini adalah berkenaan dengan wadah. Jadi, meneyebut wadahnya yaitu amplop tetapi yang dimaksud adalah isinya, yaitu uang.
e)      Pertukaran tanggapan indra
Alat indra sebenarnya sudah mempunyai tugas-tugas tertentu untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini. Misalnya rasa pahit, manis harus ditangkap oleh perasa lidah. Dalam penggunaan bahasa terjadi kasus pertukaran tanggapan antara indra yang satu dengan indra lain. Rasa pedas, misalnya, yang seharusnya ditanggap dengan alat indra perasa pada lidah, tertukar menjadi ditanggap oleh alat indra pendengaran seperti tampak dalam ujaran kata-katanya cukup pedas.  Pertukaran alat indra penanggap biasa disebut dengan istilah sinestesia. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani sun  artinya ‘sama’ dan aisthetikas artinya ‘tampak’.
Contoh
1.      suaranya sedap didengar 
2.      warnanya enak dipandang
Sedap adalah urusan indra perasa tetapi dalam contoh di atas menjadi tanggapan indra pendengaran, enak adalah juga urusan indra perasa tetapi dalam contoh di atas menjadi taggapan indra penglihatan yaitu, mata.

f)       Perbedaan tanggapan
Setiap unsur leksikal atau kata yang sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna leksikal yang tetap. Namun, pandangan hidup dan ukuran dalam norma kehidupan di dalam masyarakat maka banyak kata yang menjadi memiliki rasa yang “rendah”, kurang menyenangkan dan ada juga yang memiliki nilai rasa yang “tinggi”. Kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah lazim disebut peyoratif, sedangkan yang menilainya naik menjadi tinggi disebut amelioratif.
Contoh :
Kata bini dewasa ini dianggap peyoratif sedangkan kata istri dianggap ameliortif, kata laki dianggap peyoratif berbeda dengan suami yang dianggap sebagai amelioratif.
g)      Adanya penyingkatan
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering digunakan maka tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu, kemudian orang lebih banyak menggunakan singkatan saja dari pada menggunakan bentuk utuhnya.
Contoh :
Kalau dikatakan ayahnya meninggal tentu maksudnya adalah meninggal dunia.
Jadi, meninggal adalah bentuk singkat dari ungkapan meningal dunia.
h)      Proses Gramatika;
Proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi                       (penggabungan kata) akan menyebabkan terjadinya perubahan makna. Tetapi dalam hal ini yang terjadi sebenarnya bukan perubahan makna , sebab bentuk kata itu sudah berubah sebagia hasil proses gramatikal. Jika bentuknya  berubah maka makna pun akan berubah. Jadi, tidaklah dapat dikatakan kalau dalam hal ini telah terjadi perubahan makna sebab yang terjadi adalah proses gramatikal, dan proses gramatikal itu telah ‘melahirkan makna-makna gramatikal’.
Contoh :

i)        Pengembangan istilah
Salah satu upaya dalam pengembangan atau pembentukan istilah baru adalah dengan memanfaatkan kosakata bahasa Indonesia yang ada dengan memberi makna baru, dengan cara menyempitkan makna kata tersebut , meluaskan maupun memberi arti baru. misalnya kata papan yang semula bermakna ‘ lempengan kayu ( besi dan sebagainya) tipis, kini diangkat menjadi istilah untuk makna ‘perumahan’ ; kata sandang  yang semula bermakna ‘selendang’ kini diangkat menjadi istilah pakaian’.

2.      Jenis Perubahan
Selain dari sebab-sebab terjadinya perubahan makna, maka ada pula jenis-jenis perubahan makna, yaitu sebagai berikut:

a)      Meluas
Perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna, tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Contohnya: kata saudara yang sudah disinggung di depan, pada mulanya hanya bermakna ‘seperut’ atau ‘sekandungan’. Kemudian, maknanya bisa berkembang menjadi ‘siapa saja yang sepertalian darah’ akibatnya, anak paman pun disebut saudara.
b)      Menyempit
Menyempit yang dimaksud di sini adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Contohnya: pada kata sarjana yang pada mulanya berarti ‘orang pandai’ atau ‘cendikiawan’, kemudian hanya berarti’ orang yang lulus dari perguruan tinggi’, seperti tampak pada sarjana sastra, sarjana ekonomi, dan sarjana hukum. Betapapun pandainya seseorang mungkin sebagai hasil belajar sendiri, kalau bukan tamatan suatu perguruan tinggi, tidak bisa disebut sarjana. Sebaliknya, betapa pun rendahnya indeks prestasi seseorang kalau dia sudah lulus dari perguruan tinggi, dia kan disebut sarjana.
c)      Perubahan total
Dimaksud dengan perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dan makna asalnya. Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih ada  Contohnya: kata ceramah pada mulanya berarti ‘cerewet’ atau ‘banyak cakap’ tetapi kini berarti pidato atau uraian mengenai suatu hal yang disampaikan disepan orang banyak.
d)     Penghalusan (eufemia)
Pembicaraan mengenai penghalusan mengenai penghalusan ini kita berhadapan dengan gejala yang ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna yang lebih halus,atau lebih sopan dari pada yang akan digantikan. Kecenderungan untuk menghaluskan makna kata tampaknya merupakan gejala umum dalam masyarakat bahasa Indonesia. misalnya: kata penjara atau  bui  diganti dengan kata/ ungkapan yang maknanya dianggap lebih halus yaitu lembaga pemasyarakatan; di penjara atau dibui diganti menjadi dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan. Kata  korupsi diganti dengan menyalahgunakan jabatan. Kata pemecatan (dari pekerjaan) diganti dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).
e)      Pengasaran
Kebalikan dari penghalusan adalah pengasaran (disfemia), yaitu usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Usaha atau gejala pengasaran ini biasanya dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau menunjukkan kejengkelan. Misalnya kata menjebloskan yang dipakai untuk menggantikan kata memasukkan, seperti dalam kalimat polisi menjebloskannya ke dalam sel. Begitu juga dengan kata  mendepak yang menggantikan kata mengeluarkan.



BAB III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan

Makna yaitu arti, maksud dan pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Maka dapat disimpulkan bahwa makna merupakan suatu arti atau maksud terhadap sesuatu yang akan dimaknai dalam pemakaian makna. Jenis-jenis makna terbagi menjadi dua bagian yaitu, makna leksikal dan makna gramatikal.
Hubungan atau  relasi kemaknaan menyangkut hal kesamaan makna ( sinonimi), kebalikan makna (antonimi), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna ( hiponimi), kelainann makna (hononimi), kelebihan makna ( redundasi).


DAFTAR PUSTAKA


Sudaryat,yayat. 2008. Makna dalam Wacana. Bandung: Yrama Widia
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka cipta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar